Kurangnya Kompetensi Polisi Di Daerah Menerapkan Visi Misi Polisi Presisi Kapolri

Selatan News, Jakarta-

Pengamat Inovasi Pelayanan Publik, Deddi Fasmadhy Satiadharmanto meminta Polri memaparkan Konsep Polisi Presisi yang menjadi visi dan misi Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. “Polisi didaerah kurang Kompetensi memahami Visi dan Misi Polisi Presisi Kapolri” ungkap Deddi

Kasus warga di Bukittinggi sebuah kelurga kecil nenek dan Uwak perempuan terhadap dua orang anak Disabilitas intelektual menjadi pertanyaan besar, harusnya Polisi Polsek yang berperan besar terhadap Masalah keluarga tersebut. Memediasi warga yang bermasalah atau baru diduga karena laporan pihak lain terhadap keluarga tersebut. Sebelum nya pada 03 Desember 2020, viral seorang anak perempuan inisial ZQ (7 tahun), diduga dianiaya oleh nenek AR (65 tahun)  dan Uwak perempuannya (44 tahun) /. Menurut sumber dari Erizal (43 tahun) ayah dari anak perempuan ZQ tersebut, sebetulnya berdasarkan asesmen dari Psikolog ibu Molina , S.Psi kedua anaknya ini mengalami Disabilitas intelektual. “Perihal dugaan anak perempuan saya yang divisum karena memar dimuka dan luka di sekujur badan itu karena anak saya berlebihan dalam perilaku keseharian. Kedua anak anak saya ini ZQ (7 tahun ) dan AZY ( 8 tahun) ini memang mengalami retardasi mental. Karena masalah anak anak saya ini, (maap) isteri saya meninggalkan saya bersama kedua anak kami. Hingga saya menitipkan kedua anak anak saya ini pada nenek dan Uwaknya, mereka ini adalah ibu kandung dan kakak kandung saya” jelas Erizal

Erizal menyayangkan pada saat itu pihak ketiga dari sekolah SDN 18 Campago Guguak dan ketua RT Arifin serta pak Rw, Amri mendorong masalah ini ke polisi. Seharusnya menunggu dirinya tiba dari Jakarta untuk memahami ada asumsi masalah apa seneruy. ” Biar saya jelaskan secara historis. Bahkan secara komfrehensif berdasar Asesmen dari Psikolog ibu Molina, S.Psi” ujar Rizal.

Menurut Erizal masalah sebenarnya adalah karena guru dan kepala sekolah dari sekolah kedua anaknya dulu tidak memahami perilaku kedua anak anaknya. Dan pihak rukun tetangga dan rukun warga dimana keluarga Erizal tinggal tidak peduli untuk mediasi masalah sebetulnya dari dugaan penganiayaan dari visum yang ada di badan anak perempuan nya ZQ.

Pada saat itu laporan ke Polisi oleh pihak pelapor, itu baru pertama kali anak anak SDN 18 Campago Guguak bersekolah datang ke sekolah. Karena sebelumnya sekolah menggunakan media online, daring. Dua hari sebelum sekolah tatap muka , ibu saya ketika dijalan hendak mengaji bertemu dengan ibu guru Eka dijalan , dan ibu guru Eka minta pada nenek atau ibu saya untuk mengajarkan baca tulis dan berhitung pada ZQ. Sedangkan abangnya AZY itu bisa mengikuti sekolah online daring. Ibu saya mengajarkan cucunya ZQ untuk mengejar ketinggalan pelajaran belum bisa baca tulis dan berhitung. Memang ada dilakukan disiplin oleh ibu saya pada anak saya. Dengan memukul rotan di telapak tangan atas. Abangnya AZY tidak mendapatkan disiplin rotan tersebut karena bisa mengikuti apa yang ibu saya ajarkan. Sebatas itu saja ibu saya melakukan pendisiplinan pada anak anak saya. Dan hal ini dikonfirmasi terus oleh ibu saya ke saya. Ini malah kakak saya pun ikut dibawa bawa masuk ke masalah pidana. Padahal Kakak saya ini banyak membantu ibu menjaga anak anak saya, bahkan ketika AZY masuk ke puskemas karena rahangnya kena hantam adiknya ZQ ketika mereka bermain dan ujung ujung berantem” ungkap Rizal

Deddi Fasmadhy meminta Polri mengevaluasi organisasi kepolisian didaerah dari Polsek , polres hingga Polda untuk memahami konsep Polisi Presisi. “Mungkin bisa saja kurang nya kompetensi Kepolisian didaerah hingga sulit memahami seperti apa treatment atau penerapan Kepolisian presisi didaerah. Mungkin mereka membutuhkan petunjuk pelaksanaan (juklak) , dan Petunjuk teknis (juknis) dalam penerapan Polisi Presisi itu seperti apa. Tidak bisa serta Merta kepolisian didaerah disuruh berkreasi gagasan Polisi presisi. Secara filosofis para anggota kepolisian belum semuanya memahami karena kendala teknis ataupun kurangnya kompetensi mereka sebagai aparat” pungkas Deddi Fasmadhy

Deddi Fasmadhy menambahkan agar kedepannya tidak ada masalah dengan asumsi tersembunyi dari masalah keluarga, seperti pada kasus di Bukittinggi tersebut karena ketidak mampuannya kepolisian didaerah menganalisis masalah dengan pisau analisis yang tajam. Bahkan pekerja sosial di Bukittinggi tidak berdaya membantu Masalah keluarga tersebut. Untuk mendampingi pihak korban juga pihak diduga pelaku yang ternyata temuan psikolog Molina , S.Psi itu anak anak tersebut teridentifikasi Disabilitas intelektual. Pihak rukun tetangga dan rukun warga juga tidak mampu memediasi masalah keluarga ini dengan sesuai tupoksi mereka yang ada di perda kota Bukittinggi. “Akhirnya campur aduk masalah ini tanpa adanya evaluasi dari stakeholder terkait. Semoga yang mulia hakim bisa memetakan Masalah ini sesuai dengan keadilan. Dan pihak pelapor , bahkan aparat terkait baik Kepolisian, Pemerintah kelurahan atasan dari RT dan RW juga pekerja sosial di Bukittinggi” jelas Deddi Fasmadhy mahasiswa Magister Ilmu Administrasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Laporan Jurnalis Selatan News

Tinggalkan Balasan