Dedi Aktivis Disabilitas Soroti Kasus Dugaan Penganiayaan Anak Anak Disabilitas intelektual Yang Viral Dan Naik Ke Pengadilan negeri Bukittinggi

Selatan News, Jakarta-

Dugaan penganiayaan kdrt yang viral  pada Desember 2020 ketika Bukittinggi sedang pesta demokrasi , dimana dugaan penganiayaan dilakukan oleh nenek AZ  (65 tahun) dan EN (45 tahun)  seorang Uwak perempuan pada dua orang cucu atau keponakan  inisial AZY (8 tahun ) dan ZQ (7 tahun) pada  Desember 2020 di Kota Selayan Bukittinggi.

Kasus dugaan Penganiayaan kdrt ini naik ke pengadilan negeri Bukittinggi. Walaupun Pihak keluarga pelaku yang juga pihak keluarga korban dari  anak  anak, nenek AZ  (65 tahun) dan adik dari EN (45 tahun), Pak Erizal ( 43 tahun) mencoba untuk tabayun ke Sekolah SDN 18 Campago Guguak dan Ketua RT dan Ketua RW domisili dari keluarga pelaku juga keluarga korban, tidak digubris Pihak Pelapor. Pak Erizal ingin memediasi bahwa dari dugaan Penganiayaan di sekujur tubuh anak anak nya tersebut adalah karena perilaku Disabilitas intelektual dari kedua anak anaknya. Seperti pernah AZY masuk ke Puskemas karena terluka rahangnya kena hantam adiknya ZQ.  Namun kenyataannya  pihak pelapor sudah bulat ingin melanjutkan permasalahan ini ke ranah hukum.

Sidang dugaan penganiayaan kdrt ini jadi jalan panjang keluarga juga keluarga korban dari Pak Erizal, dimana dipertaruhkan kehidupan sosial , juga perekonomian dari keluarga pelaku juga keluarga korban.

Menurut Dedi Warman El Badrie salah seorang aktivis Disabilitas seharusnya kasus tersebut bisa diselesaikan melalui mekanismenya kekeluargaan ataupun restoratif justice.

“Kita setuju kepentingan terbaik bagi anak adalah hal yang utama, namun dalam hal ini yang menjadi persoalan adalah anak ternyata adalah penyandang Disabilitas intelektual sesuai asesmen dari Psikolog rujukan pihak Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Bukittinggi. Dimana anak anak Penyandang Disabilitas intelektual ini perlu pendampingan khusus dalam mendalami permasalahan yg terjadi sesungguhnya” ujar Dewa panggilan akrab aktivis Disabilitas ini.
Apalagi yang menjadi tersangka adalah nenek kandung dan Uwak perempuan dari anak anak penyandang disabilitas , tambah Dewa. Yang dititipkan mengasuh oleh ayah kandungnya.
“Dan agak janggal jika ayah kandungnya tidak mempersoalkan tapi ada pihak lain yang membawa ke ranah hukum” ungkap dewa

Dedi Warman El Badrie yang ikut dalam Pencalonan Komisioner Komisi Nasional Disabilitas ini menambahkan kasus ini dapat dijadikan pembelajaran hukum bagi masyarakat, karena tidak semua masyarakat tahu hukum dan konsekwensi hukum apa yang akan diterima atas suatu tindakan yang mereka lakukan.

Laporan Jurnalis Selatan News

Tinggalkan Balasan