BALADA PEREMPUAN DAN DEFUSI FEMINISME

*BALADA PEREMPUAN DAN DEFUSI FEMINISME*

Oleh : Audiyah PSB Gemapela

Dari berbagai bacaan, opini yang berkembang, dengar pendapat dalam forum diskusi kalangan intelektual, serta penjajakan terhadap kebiasaan dan perilaku yang terjadi pada lingkungan. Terdapat keresahan yang dimunculkan oleh gerakan patriarki dan gerakan feminisme. Ironisnya, keresahan ini justru memunculkan keresahan baru lagi. Kebiasaan dalam glorified sesuatu masih terus terjadi dan mengakibatkan pemahaman yang keliru yang kemudian kembali menghasilkan gagasan-gagasan baru lagi. Sehingga inilah yang saya sebut sebagai ‘kemunduran karakter’.

Dalam sejarahnya, hari Perempuan Internasional berakar dari keresahan terhadap ketidakadilan yang terjadi. Pada masanya terjadi ketidakadilan pada pembagian upah pekerjaan. Upah pekerja perempuan yang didapat tidak lebih dari setengah upah pekerja laki-laki. Inilah yang memunculkan polemik hingga pegiat perempuan yang gerah akan itu membuat gerakan perlawanan. Suara terhadap ketidakadilan terus digaungkan diberbagai tempat termasuk forum-forum internasional. Beberapa tahun sejak gerakan memperjuangkan hak perempuan disuarakan, ditetapkanlah pada tanggal 8 Maret menjadi Hari Perempuan Internasional. Sejarah ketimpangan. Pada dunia patriarki terdapat pembatasan speak up pada kaum perempuan. Hal ini terjadi karna dua hal, pertama karna menganggap bahwa pengetahuan pada perempuan sangat minim dan kedua karna menghindari konflik, sebab perempuan yang banyak bicara dianggap sebagai orang yang cerewet, ambisius, dan banyak mau. Ironi dalam kehidupan sosial, budaya patriarki ini terjadi oleh lingkungan dan diperkuat oleh lingkungan pula sehingga membuat ketakutan dan keraguan.

Dari budaya patriarki yang berkembang ini kemudian adanya gerakan feminisme. Gerakan yang mengatasnamakan keadilan perempuan. Menyatakan bahwa harus ada kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan baik dalam pekerjaan maupun menyampaikan pendapat. Namun seiring perkembangan zaman terjadi pula perkembangan gagasan yang mengakibatkan pemahaman yang keliru. Dalam gagasan ini menyatakan bahwa perempuan harus ‘bebas’. Bebas melakukan apapun tanpa dihalangi oleh siapapun. Termasuk ketika seorang perempuan ingin memiliki keturunan namun tanpa berhubungan seks, maka perempuan bebas untuk melakukan hal tersebut dengan caranya yang lain. Perempuan bebas untuk mengenakan pakaian dengan model apa saja sekalipun itu bertentangan dengan syariat agama. This so ironic and being dramatic.

Dari sinilah open minded seharusnya berjalan bukan sebagai bahan olokan. Menurut perspektif saya, gerakan mengatasnamakan perempuan dengan menyerukan kata ‘bebas’ adalah sesuatu yang dapat menimbulkan bablas. Gerakan feminisme seharusnya ada karna emansipasi dan keluar dari ketidakadilan. Bukan justru memunculkan gagasan baru yang salah sasaran. Hal ini juga dinilai terlalu belakang karna terus menyerukan kesetaraan gender. Padahal jauh sebelum gagasan ini ada, kedudukan perempuan sudah sangat baik. Dan jelas terdapat dalam kitab umat Islam yang menyatakan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama. Inilah yang akhirnya saya sebut dengan ‘kemunduran karakter’. Bebas namun bablas karna lalai akan kewajiban dan lupa akan esensi terhadap peran perempuan.

Diakhir, penulis mengharapkan pada semua pembaca kaum perempuan khususnya untuk tetap membuka pikiran dengan tidak mengkotak-kotakkan sesuatu dan memaknainya menjadi pemahaman yang keliru. Adanya feminisme harusnya berperan untuk memperbaiki relasi antara laki-laki dan perempuan, bukan memperkuat atau memperlemah salah satunya. Seperti telaah pikiran melalui gagasan-gagasan Hannah Arendt yang menyatakan bahwa “keterbukaan pikiran akan sangat maksimal ketika berpikir dan menilai dijalankan, karna ada korelasi diantara keduanya sebab sama-sama membutuhkan kesadaran dan nurani”.

Dalam perayaan Hari Perempuan Internasional bukan semestinya jika perempuan sekedar merayakan dengan memberi ucapan selamat. Namun lebih dari itu. Perempuan harus bisa menentukan apa yang seharusnya ada dan mengevaluasi apa yang tidak ada lagi. Lalu menilai sesuatu berdasarkan banyak sudut pandang dengan persiapan kehendak sehingga dari apa yang dinilai mampu mengetahui mana yang benar, mana yang salah, dan mana yang keliru. Globalisasi menuntut perempuan untuk semakin cerdas, namun menjadi idealis juga harus seimbang dengan memahami timbal rasa. Sehingga ada keseimbangan antara rasa dengan logika dan menilai dengan berpikir.
Selamat Hari Perempuan Internasional.

Tinggalkan Balasan