Erizal Ayah Kedua Anak Korban KDRT Minta Penyidik Proposional Dalam Menggali Unsur Dan Delik

Selatan News, Bukittinggi-

30 Januari 2021

Kasus dugaan kdrt Pada Korban Zalmyra Qainata (7 tahun) dan Ammar Zata Yumni (8 tahun) yang melibatkan nenek dan Uwak perempuan dari kedua anak anak tersebut pada awal bulan Desember 2020 yang dilaporkan oleh pihak sekolah SDN 18 Campago Guguak Koto Selayan Bukittinggi melalui Rukun tetangga dan Rukun Warga dimana domisili kedua anak tersebut , mendapatkan klarifikasi dari Erizal ayah dari kedua anak tersebut. Saat dijumpai reporter Selatan News, Erizal mengungkapkan dirinya hadir memenuhi panggilan penyidik sat reskrim polres Bukittinggi karena sebagai saksi dari kedua anaknya yang diduga dianiaya oleh nenek dan Uwak perempuan nya. Menurut Erizal kedua anaknya ini mengalami masalah internal ketidak mampuannya mengolah informasi dari luar diri mereka. “Anak anak saya ini dari kecil hyper aktif, tidak punya rasa takut pada bahaya, serta tidak punya rasa sakit. Mereka berdua dari kecil kerap berlebihan dalam bermain kadang suka berkelahi main pukul sikat sana sini badan adik atau pun kakaknya. Saya mau klarifikasi luka memar memar yang divisum oleh pihak pelapor baik sekolah SDN 18 Campago Guguak dan pak RT dan Pak RW dimana kami berdomisili, sesungguhnya impact dampak kedua anak saya ini bermain berlebihan hingga berkelahi antar keduanya. Sebelum nya malah Abang Zata yang terluka dibawa ke puskemas karena rahangnya kena pukul adiknya Keyna” jelas Erizal.

Erizal menjelaskan laporan ini terjadi karena Keyna saat belajar tatap muka setelah daring online sekolah itu keyna tidak mampu mengerjakan tugas sekolah. Waktu itu Ibu Eka wali kelas 1 dimana keyna dan zata  bersekolah dijalan ketemu neneknya keyna dan zata meminta nenek dari keyna dan zata agar keyna harus bisa baca tulis dua hari kedepan hari Senin saat itu. Estimasi dua hari itu digunakan nenek untuk mendidik keyna belajar baca dan tulis serta berhitung. Namun keyna memiliki kekurangan dalam memahami input dari luar dirinya seperti sulit untuk cepat baca, tulis dan berhitung. Hal ini berbeda dengan Zata abangnya keyna. Zata bisa mengikuti proses belajar mengajar walaupun daring.

Menurut Erizal dirinya tidak terima ditanyakan oleh penyidik apa ada  alat bukti seperti pisau atau alat tumpul buat melukai  atau memukul kedua anaknya tersebut. “Kami ini , saya walaupun di Jakarta mencari rejeki selalu berkomunikasi dengan nenek dan Uwak perempuan dari kedua anak saya. itu ibu saya yang membesarkan saya bersama kakak perempuan saya yang diduga menganiaya. Secara rasional otak alam bawah sadar atau pun alam sadar ibu dan kakak saya tidak mungkin nekat menganiaya kedua anak saya. Saya saja bisa sebesar ini sehat dan baik. Kedua anak saya itu pun sehat sehat , badannya berisi.memar memar itu karena kedua nya tidak tahu bahaya , tidak tahu kalau berlebihan bisa menyakiti dirinya bahkan abangnya begitu sebaliknya.”Soal dihukum rotan atau lidi oleh nenek nya itu karena mendisiplinkan keyna , abangnya Zata aman karena dia mampu mengerjakan tugas dengan baik. Memang kelemahan ibu saya itu  tradisional dalam menghukum karena cucu cucunya tidak mampu menerima input informasi dari luar diri nya. Lagian mestinya guru itu kalau daring coba di instrospeksi , di evaluasi anak didiknya untuk liat  apa sudah bisa baca tulis dan berhitung, jangan orang tua disuruh melakukan proses belajar mengajar karena mereka orang tua atau nenek itu bukan Latarbelakang pendidik. Kenapa keyna dan zata tidak mampu dalam mengikuti pelajaran daring,  hal ini dikarenakan IQ keyna dan zata itu 75 dibawah rata rata normal standar manusia normal, mereka masuk dalam kategori Disabilitas intelektual atau tuna grahita, ini hasil asesmen dari Psikolog.data nya ada. ” Coba pihak penyidik menggali lebih dalam unsur unsur apa saja didalam perkara ini hingga ketemu deliknya. Jangan lah represif pada saya ketika dipaksakan untuk mengakui apa ada alat tumpul atau pisau yang ditanyakan pihak penyidik.cobalah baik baik menyidik sesuai struktural dan prosedur SOP Undang undang no.2 tahun 2002 Kepolisian dan Peraturan Kapolri (perkap) Nomor 15 tahun 2013. “Saya ini bisa memahami apa yang dimaksudkan penyidik, saya jangan ditekan secara represif untuk memberikan keterangan yang pada kenyataannya memang masalah ini karena internal kedua anak saya dalam memahami input informasi pada diri mereka berdua”

Rizal menambahkan coba digali rangkaian peristiwa motivasi kenapa melakukan disiplin dengan rotan pada cucu cucunya. Kenapa cucu yang tidak mampu tidak kena rotan. Ini karena ibu saya bukan pendidik, ditekan pihak sekolah untuk menjadi guru dirumah mengajarkan keyna agar bisa baca tulis dan berhitung, sementara Abang nya Zata sudah mampu mengerjakan tugas .Sekolah karena sudah mampu baca tulis dan berhitung. ” Coba digali asumsi asumsi tersembunyi ini seperti laporan sekolah ke RT/ RW , lalu  RT / RW melaporkan ke kuasa hukum tim sukses Calon walikota Bukittinggi 2020 kemaren. Ada unsur politis kenapa kedua anak saya ini di potret secara politik. Dalam undang undang Perlindungan anak pasal 15;anak disabilitas seperti anak saya tidak boleh didorong ke politik. Dan harusnya juga ketika disidik kedua anak saya ini didampingi oleh profesional Pendidik Luarbiasa untuk anak anak Disabilitas seperti anak saya, sesuai rekomendasi psikolog kalau anak saya Disabilitas intelektual harus ada shadow teacher , guru pendamping pada kedua anak ini agar tidak dikriminalisasi kedalam perkara hukum yang unsur dan deliknya belum jelas. Baru berdasarkan visum, saksi pun secara jelas belum melihat depan mata anak anak saya ini di aniaya. Baru katanya katanya. tapi gak dicari tau luka memar karena terluka kedua anak anak saya bermain  berlebihan hingga berkelahi antar sesama yang membuat memar. Lalu digiring karena pihak sekolah meliat anak saya keyna ketakutan, tapi tidak dicari tahu ketakutan ini karena internal anak saya yang disabilitas. Jangan sampai bias diada adakan tuduhan untuk sebuah proses tanpa ada keinginan menggali unsur hingga ketemu delik dengan pisau analisis yang tajam ” jelas Erizal

Erizal minta pada Kapolri Baru , Jenderal Pol Listyo Sigit Purnomo kedepan para Penyidik diasah kompetensi penyidikan secara komfrehensif agar para penyidik profesional dan komfrehensif dalam menyidik hingga polisi semakin humanis dalam berinovasi melayani masyarakat.

Laporan jurnalis SN

Tinggalkan Balasan