Kemerdekaan dan Dinding Pembatas Kaum Perempuan Oleh Susila Wandari (Puan Gemapela)

Berbicara manusia berarti berbicara kehidupan makhluk sosial, dan berbicara makhluk sosial tidak lepas dari dua gender yaitu perempuan dan laki-laki. Kehidupan sosial tentu dapat terjadi ketika dua makhluk tersebut jelas ada keberadaannya. Tidak hanya dapat dilihat dari satu sisi itu saja, namun kesetaraan kedudukannya antara perempuan dan laki-laki haruslah juga diketahui keberadaannya.

Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat istimewa yang diiringi dengan berbagai kelebihan. Namun hari ini keistimewaan tersebut hanya dilihat dari segi fisiknya saja yang kemudian berpengaruh pada kedudukannya ditengah masyarakat. Sontak hal itu pula yang menjadikan perempuan hanya sebatas ‘makhluk pemuas’ kaum laki-laki. Lagi-lagi kedudukan tersebut menempatkan status perempuan pada budaya Patriarki.

Tak sedikit peran perempuan yang turut berpartisipasi pada semua aspek kehidupan, namun sebagian besar masih merasa kurang terwakili sebab masih meletakkan perempuan pada peran domestik saja. Disisi lain banyak pula perempuan yang dapat berfikir maju, namun terhalang dengan ketakutan akan pikiran “semua yang berhak menentukan hanya laki-laki saja”, terlebih lagi label yang mengatakan bahwa sifat perempuan yang sensitif yang selalu mengedepankan urusan hati. Pada dasarnya, perbedaan mengenai peran perempuan dan laki-laki tidak hanya diakibatkan oleh perbedaan gender dan budaya patriarki saja, melainkan karna masih adanya ketidakpedulian sesama kaum perempuan yang terus terjadi yang didasari oleh penyakit yang disebut ego. Hal tersebut tumbuh dan berkembang sehingga menghadirkan ketimpangan persepsi sampai hari ini.

Untuk kesekian kalinya, kemerdekaan kaum perempuan masih dipertanyakan. Sebagai apakah kedudukan perempuan di masa sekarang? Apakah hanya sebatas sebagai alat pemuas, budak, ataukah makhluk selingan?
Padahal dari serangkaian konsep sangat memperhatikan bahwa kepedulian terhadap peran perempuan lebih banyak dari literatur yang ditulis perempuan. Ini memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan untuk meningkatkan perannya dalam masyarakat masih dominan diperjuangkan dari dan untuk perempuan itu sendiri.

Walaupun pada dasarnya budaya patriarki masih ada dan terkadang dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri. Maka solusi dari permasalahan ini ialah kita tidak boleh hanya bungkam, tidak ada perubahan jika kita hanya diam. Pastikan kita dapat membuktikan bahwa salah mengenai sorakan laki-laki yang beranggapan ‘wanita itu lemah’. Pastikan kita merubah  kata tidak mungkin menjadi mungkin, bukan justru pasrah sebab perempuan itu istimewa.

Salam Hangat Dari Saya Puan Gemapela.

Tinggalkan Balasan