Erizal Ayah Kandung Zalmyra Minta Ketua RW Kooperatif Terhadap Keinginan Dirinya Mediasi Kekeluargaan Secara Adat

Selatan News, Bukittinggi

Erizal (43 tahun) ayah kandung dari keynan atau Zalmyra Qainata (7 tahun) merasa bingung dengan laporan Ketua RW, Amrul sebagai pihak pelapor ke kepolisian mengenai tindakan Kdrt emaknya bersama kakak kandung terhadap Puteri kandungnya Zalmyra Qainata ( 7 tahun). Tindakan sepihak Ketua RW, Amrul disayangkan Erizal yang seharusnya berkonsultasi dengan dirinya terlebih dahulu yang saat itu dirinya belum datang ke Bukittinggi. Erizal menyayangkan mengetahui dari media online lokal di sumatera barat kalau Ketua RW Amrul malahan  melakukan konsultasi dengan Kuasa Hukum Salah Satu Paslon Kepala Daerah Bukittinggi.   Lalu berkembang pada pelaporan kejadian ini ke Polres Bukittinggi.

“Harusnya Ketua RW, Amrul melakukan komunikasi dengan saya, mencari langkah mediasi dengan permasalahan kdrt yang reaktif dilakukan emak saya” jelas Erizal

Selama ini setahu Erizal anak anaknya Keynan dan Zata di sekolah nya terkendala dengan adaptasi dengan sekolah barunya. Keynan atau Zalmyra itu terkendala dengan baca tulis dan berhitung. Dirinya kerap berkomunikasi dengan emaknya, enek dari Zalmyra terhadap kendala Zalmyra dalam baca tulis dan berhitung. Hulu dari masalah ini mengenai kendala baca tulis dan berhitung Zalmyra yang  yang kemudian menjadi masalah karena emak dari orang tua Erizal memberikan reaksi pada kendala dan keterhambatan Zalmyra. “Harusnya yang patut disalahkan dari hulu permasalahan ini saya, bukan orang tua saya, enek dari Zalmyra dan Zata anak saya” jelas Erizal.

Erizal kaget mengetahui lewat media online lokal kenapa Ketua RW, Amrul melakukan konsultasi dengan Tim Sukses salah satu Paslon Kepala Daerah Bukittinggi.

“Hal ini sensitif karena ketua RW itu Pemimpin  Paguyuban Warga yang seharusnya independen, tidak beririsan politik dengan Salah satu tim sukses Paslon kepala daerah Bukittinggi. Akibatnya jadi konsumsi publik. Padahal harusnya masalah ini  cukup jadi masalah internal keluarga saya. Ketua RW bisa sabar menunggu kedatangan dirinya ke Bukittinggi untuk menyelesaikan masalah internal keluarga nya” terang Erizal.

Erizal meminta Ketua RW , Amrul untuk mencabut  laporan dengan surat nomor: LP/290/K/XII/SPKT Res. Bukittinggi.

“Biarkan saya bersama keluarga menuntaskan masalah ini secara adat dan kekeluargaan. Bagaimana sampai terjadi Masalah ini di hulu. Kalau masalah jadi obyek hukum positif, buat apa kita memiliki hukum adat di ranah Minang, kalau tidak untuk mediasi menuju mufakat untuk pembelajaran kita bersama dari masalah internalnya sebuah keluarga”

Erizal menambahkan beban psikologis , kejiwaan proses tindakan seseorang harus dilihat secara jernih dari hulu hingga ke hilirnya. Kalau pikiran kita setiap masalah jadi obyek hukum , bukan mencari akar masalah di hulu nya, kedepan akan banyak enek enek yang khilaf , reaktif terhadap masalah anak keturunan nya, karena publik memotret Masalah internal keluarga sebagai obyek hukum.

“Jangan lupa , Zalmyra dan zata itu anak kandung saya, mereka adalah darah daging saya, saya lah wali dari mereka berdua selama diri saya masih hidup. Saya adalah kuasa asuh sekaligus kuasa hukum dari anak anak saya. Kalau begini terus urusan nya keluarga saya bisa hancur, terjadi Sosial Gap dengan keluarga saya dengan masyarakat sosial. Kejiwaan keluarga kami kena berdampak pada masalah ini. Terlebih pada Zalmyra dan Zata anak anak saya, mereka bingung dan menjadi asing terhadap saya ayah kandung nya” pungkas Erizal

Laporan jurnalis

Tinggalkan Balasan